Skip to main content

Hukum Islam Tentang Merayakan Hari Valentine Bagi Seorang Muslim

Infodasar.com-Banyak orang merayakan Hari Valentine yang jatuh pada tanggal empat belas Februari setiap tahun mereka melakukannya dengan menukar mawar merah dan hadiah. Mereka juga mengenakan pakaian merah dan saling memberi selamat antara satu sama lain. 
Hukum Islam Tentang Merayakan Hari Valentine

Hukum Islam Mengenai Perayaan Hari Valentine

Peraturan terkait Hukum Islam tentang merayakan hari valentin yang jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahun dijelaskan sebagai berikut:


Keterangan sudah jelas dari Quran dan Sunnah, dan ini disepakati oleh  generasi Muslim awal yang menegaskan bahwa hanya ada dua Hari raya dalam Islam, yaitu Hari raya al-Fitri (setelah puasa Ramadhan ) dan Hari raya al-Adha (setelah berdiri di' Arafah untuk haji).
Setiap  Hari raya lainnya, apakah terkait dengan seseorang, kelompok, kejadian atau hal-hal lain yang merupakan Hari raya yang diada-adakan tidak diperbolehkan bagi Muslim untuk berpartisipasi di dalamnya, menyetujuinya, menunjukkan kebahagiaan pada kesempatannya, atau membantu orang lain untuk melakukannya, dengan cara apa pun. Melakukan hal itu berarti melanggar batas-batas.
Allah berfirman:
Artinya: "... Dan barangsiapa yang melampaui batas-batas Allah pasti telah melakukan kesalahan terhadap dirinya sendiri ..." (Quran: 65: 1)

Jika kita tambahkan hari valentin sebagai hari raya, maka sebenarnya kita telah mengikuti perayaan hari raya umat selain Islam. Maka, jika hal tersebut terjadi berarti kita termasuk dalam umat tersebut dalam arti tersendiri. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Nabi Muhammad saw. Hadis Rasulullah: "Man Tasyabbaha Bikaumin Fahua Minhum". 

Hal tesebut karena perayaannya menuntut tiruan dari orang-orang kafir dan dengan demikian menunjukkan kepada mereka suatu bentuk kesetiaan. Dalam Al Qur'an, Allah dengan tegas melarang orang-orang beriman untuk meniru, mencintai, atau setia kepada orang-orang kafir, dengan cara apa pun. 

Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi setiap Muslim yang mengaku percaya pada Allah dan Hari Terakhir untuk berpartisipasi di dalamnya, menyetujuinya, atau memberi selamat kepada siapa pun pada kesempatan itu. Selain itu, wajib untuk meninggalkannya dan menjauhkan diri darinya sebagai ketaatan atas perintah Allah dan Rasul-Nya.

Selain itu, dilarang bagi seorang Muslim untuk membantu atau membantu Hari raya valentin atau perayaan terlarang lainnya dengan cara apa pun baik dengan makan atau minum, menjual atau membeli, produksi, pemberian hadiah, korespondensi, pengumuman, atau cara lain. Semua hal ini dianggap bekerja sama dalam dosa dan pelanggaran dan ketidaktaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Yang Mahatinggi dan Maha tinggi berfiraman yang artinya: "... Dan bekerja sama dalam kebenaran dan kesalehan, tetapi jangan bekerja sama dalam dosa dan pelanggaran. Dan takutlah kepada Allah Sesungguhnya Allah sangat berat dalam hukuman. "(Quran: 5: 2)


Juga, wajib bagi setiap Muslim untuk secara ketat mematuhi Al-Quran dan Sunnah dalam setiap situasi dan setiap saat, terutama di saat-saat godaan dan korupsi. Adalah kewajiban bahwa dia mengerti, sadar dan berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam penyimpangan dari orang-orang yang marah kepada Allah (yaitu, orang-orang Yahudi) dan mereka yang tersesat (yaitu, orang-orang Nasrani) dan orang-orang amoral lainnya yang tidak memiliki rasa takut akan hukuman atau harapan hadiah dari Allah, dan yang tidak memberikan pengakuan sama sekali kepada Islam.

Adalah penting bagi Muslim untuk senantiasa bertawakkal kepada Allah yang Maha tinggi, menghatapkan bimbingan-Nya di jalan yang benar. Sesungguhnya tidak ada Penuntun kecuali Allah, dan tidak ada yang bisa memberikan ketegasan selain Allah, dan kesuksesan adalah dari-Nya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar