Skip to main content

Komitmen Dakwah Sebagai Pemimpin Oleh Misbakhul Munir

Halo Sobat Infodasar, Kali kami akan membahas tentang komitmen dakwah sebagai pemimpin. Seperti diketahui bersama bahwa seorang pemimpin merupakan rujukan bagi orang-orang yang berada disekitarnya pada beberapa aspek tertentu. Dengan demikian ranah dakwah tidak bisa dipisahkan dari setiap pribadi seorang pemimpin.
Komitmen Dakwah

Komitmen Dakwah Sebagai Pemimpin 

Sebagai pembicara pada kegiatan Diklat Kepala Sekolah I yang diadakan oleh Kualita Pendidikan Indonesia Pusat Surabaya yang rencananya belangsung selama enam hari terhitung dari tanggal 26-31 Juli 2019, Misbakhul Munir selaku Direktur Eksekutif KPI Pusat Surabaya, mengatakan bahwa dakwah pada dasarnya adalah mengubah sesuatu dari yang apa adanya menjadi yang seharusnya.
Jika kita telaah lebih jauh dari apa yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif KPI Surabaya tersebut, maka korelasi antara pemimpin dengan dakwah begitu lekat dan tidak dapat dipisahkan antar satu dengan yang lainnya. Dengan demikian bagi seorang pemimpin harus ada kejelasan tujuan kea rah mana ia melangkah dan dari sisi mana ia memandang semuanya harus butuh perencanaan.

Baca Juga :Cara Mudah Belajar Baca Alquran dengan Metode Ummi

Lanjut Beliau, sebagai seorang pemimpin mereka tidak boleh “Gelinding Semprung”, yaitu seperti lampu kaca yang menggelinding tidak jelas tanpa arah. Sebagai pemimpin, mereka harus memiliki visi dan misi yang jelas kemana lembaga yang ia pimpin akan bawa.
Sobat Infodasar, Selanjutnya Misbakhul Munir dalam Diklat Kepala Sekolah I tersebut menjelaskan tentang bagaimana keseimbangan hidup sebagai seorang pemimpin. Beliau menjelaskan bahwa pada prinsipnya keseimbangan hidup dibagi menjadi dua macam, yaitu:

1. Keseimbangan Internal

Keseimbangan internal merupakan keseimbangan hidup yang bersumber dari dalam diri setiap orang yang mencakup:
a. Mental
b. Spiritual
c. Emosional
d. Jasad
Lanjut beliau, bahwa poin ini merupakan hal pertama yang harus diselesaikan oleh setiap pribadi muslim sebagai seorang pemimpin. Menurut Pak Miskbah nama sapaan beliau, bahwa pada prinsipnya seorang pemimpin adalah bagaimana ia mempengaruhi orang lain sementara tingkat pengaruh dari seorang pemimpin bergantung pada kesiapan mental, kesadaran spiritualitas yang tinggi, kematangan emosional, dan kesehatan jasmani yang prima.
Pemimpin

Ketika seluruh aspek internal sudah tuntas pada setiap diri seorang pemimpin, maka selanjutnya mereka harus menyelesekain keseimbangan dirinya pada sisi Eksternal.

2. Keseimbangan Eksternal

Keseimbangan eksternal yaitu segala aspek yang berkaitan dengan pribadi seseorang dalam menjalankan peran hidupnya sebagai mahluk sosial. Yang termasuk kedalam aspek ini seperti pekerjaan, keluarga, organisasi masyarakat dll. Dalam diklat tersebut, beliau memberikan sebuah ilustrasi terkait dengan jabatan Kepala Sekolah, Bahwa setelah keseimbangan Internal tersebut sudah terpenuhi, maka selanjutnya adalah menyelesaikan keseimbangan eksternal yaitu bagaimana ia mengkomunikasikannya dengan keluarga di rumah, meminta pandangan istri dan memberikan pemahaman kepadanya terkait dengan segala dampak pekerjaan baru yang ia emban.

Menjadi Pemimpin yang Baik

Pada DKS I tersebut tidak lupa beliau menyisipkan dalil Alquran terkait dengan prinsip dasar seorang pemimpin yang baik dan disukai bawahannya. Beliau Mengutip Al-Imran ayat 159.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.
Misbakhul Munir

Dalil yang beliau kutip tersebut, memberikan pelajaran sangat berharga bagi kita sebagai seorang pemimpin, bahwa sikap lemah lembut selain harapan dari setiap orang, ia juga merupakan perintah Allah swt. Perilaku kasar yang diperlihatkan seorang pemimpin akan membuat orang-orang disekitarnya menjauh bahkan akan sulit menerima kebenaran disampaikan. 
Selanjutnya adalah memaafkan merupakan perkara yang sangat mulia apalagi jika dilakukan oleh mereka yang memiliki kewenangan terhadap suatu perkara. Terakhir Misbakhul Munir menyampaikan bahwa, terbiasalah dalam memaafkan mereka yang ada di bawahmu dan jangan menunggu maaf dari mereka karena sesungguhnya yang ada adalah memaafkan bukan meminta maaf dan itu adalah hal yang luar biasa. Wallahu A’lam.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar